Revolutionize Your Santa Klaus With These Straightforward-peasy Tips

From Shiapedia

Jump to: navigation, search

Deretan Banjir Terbesar Pernah Terjadi di Indonesia, Termasuk Jakarta

Sebagian besar wilayah di Indonesia saat ini telah memasuki musim hujan dan La Niña otomatis telah memasuki deposit slot tanpa potongan Indonesia. Fenomena La Niña merupakan anomali iklim yang ditandai dengan suhu permukaan laut (SST) di wilayah tengah dan timur Samudera Pasifik tropis yang lebih dingin dari biasanya.

Kondisi ini biasanya diikuti oleh perubahan pola sirkulasi Walker (sirkulasi atmosfer timur-barat yang terjadi di sekitar ekuator, di mana atmosfer berada di atasnya dan dapat memengaruhi iklim dan pola cuaca global).

Menurut situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), La Niña dapat berulang setiap beberapa tahun dan setiap kejadiannya dapat berlangsung antara beberapa bulan hingga dua tahun.

Sedangkan, dampak dari La Niña sendiri adalah intensitas hujan meningkat sehingga membuat cuaca menjadi hujan. Bila hal ini terjadi, ada kemungkinan akan terjadi hujan lebat atau ekstrem.

Di Indonesia, saat musim hujan telah memasuki wilayah yang cukup rendah, terutama di pesisir pantai atau dekat sungai, kerap kali berpotensi dilanda banjir jika intensitas hujan semakin deras.

Oleh karena itu, banjir merupakan fenomena alam yang kerap terjadi di Indonesia.

Penyebabnya beragam, mulai dari intensitas curah hujan yang tinggi, permukaan tanah yang rendah, hingga aliran sungai yang tidak lancar akibat tersumbatnya sampah.

Permasalahan banjir memang sudah ada sejak lama, namun hingga kini banjir terus melanda berbagai wilayah Indonesia setiap tahunnya hingga menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik harta benda maupun nyawa.

Sayangnya, banjir di Indonesia tidak hanya terjadi di wilayah pesisir atau dataran rendah. Bahkan, dataran tinggi pun mulai dilanda banjir bandang.

Lalu, wilayah mana saja yang pernah dilanda banjir besar? Berikut daftarnya:

Banjir Jambi (1955)

Menurut catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jambi pernah mengalami banjir terbesar sepanjang sejarah pada tahun 1931, 1955, 1967, 1991, 2003, 2006, 2007, 2010, 2013, 2014, dan 2015. Namun, banjir terbesar yang pernah terjadi terjadi di Jambi, tepatnya pada akhir Januari-Februari 1955.

Situasi banjir ini terungkap dalam surat kabar Overijels Dagblad pada 11 Februari 1955 dan Shamsu Bahroen, utusan Dewan Pimpinan Daerah Batanghari di Sumatera Bagian Tengah.

Menurut laporan Bahroen, hujan mulai turun pada 28 Januari 1955 selama 10 hari berturut-turut dan menyebabkan muka air Sungai Muara Tembesi mencapai 4 meter.

Mereka juga melaporkan bahwa hingga 80% rumah di Jambi terendam, ribuan orang dievakuasi ke dataran tinggi, 42.000 hektare sawah dan padi yang hampir matang rusak dan 6.000 sawah yang masih berupa padi kecil rusak parah.

Banjir Bahorok (2003)

Banjir terbesar di Indonesia terjadi pada hari Minggu, 2 November 2003 di kawasan ekowisata Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Banjir yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Bohorok tersebut mengakibatkan 157 orang meninggal dunia, termasuk 6 orang wisatawan mancanegara, dan 82 orang lainnya dinyatakan hilang.

Dalam musibah ini, sebagian masyarakat menilai bencana alam tersebut merupakan kutukan akibat penyalahgunaan fungsi kawasan wisata yang telah menjadi "dunia gelap".

Namun, faktor utama penyebab terjadinya bencana alam adalah degradasi di daerah hulu akibat maraknya penebangan liar yang menghambat penyerapan air hujan ke dalam tanah.

Banjir Jakarta (2007 & 2009)

DKI Jakarta memang terbilang kota yang rawan banjir setiap tahunnya, terutama di awal tahun. Namun, pada tahun 2007 lalu, banjir yang melanda Jakarta sempat menjadi salah satu banjir terbesar di Indonesia.

Pada malam hari tanggal 1 Februari 2007, banjir mulai melanda Jakarta dan sekitarnya, menyusul hujan deras yang berlangsung sejak sore hingga keesokan harinya.

Selain curah hujan yang tinggi, banjir juga disebabkan oleh buruknya sistem drainase, sehingga volume air di 13 sungai yang melintasi Jakarta meluap dan merendam hampir 60% wilayah DKI Jakarta dengan ketinggian hampir 5 meter.

Banjir ini menelan korban lebih banyak dibanding bencana serupa yang pernah terjadi pada tahun 2002 dan 1996.

Menurut sumber, sebanyak 80 orang dinyatakan meninggal dalam kurun waktu 10 hari akibat terseret arus, tersengat listrik, dan terserang penyakit.

Akibat kejadian ini, siklus bisnis di Jakarta terhenti dan kerugian mencapai 4,3 triliun rupiah. Hingga 7 Februari 2007, sekitar 320.000 warga Jakarta telah mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Banjir bandang kembali melanda Jakarta pada tahun 2009, khususnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Banjir tidak hanya terjadi di jalan utama, tetapi juga merendam kawasan elite.

Banjir Wasior, Papua Barat (2010)

Pada 4 Oktober 2010, banjir bandang terjadi di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Banjir ini terjadi akibat hujan yang turun terus menerus sejak Sabtu, 2 Oktober 2010 hingga Minggu, 3 Oktober.

Keadaan semakin parah dengan rusaknya hutan di Wasior yang mengakibatkan meluapnya Sungai Batang Salai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy. Akibatnya, sejumlah infrastruktur di Wasior hancur, seperti lapangan terbang, rumah warga, rumah sakit, jembatan, dan sejumlah gereja.

Tidak hanya itu, banjir dahsyat ini juga memutus jalur komunikasi dan jaringan listrik di Wasior. Menurut pemberitaan media saat itu, banjir bandang di Wasior mengakibatkan 158 orang meninggal dunia dan 145 orang dinyatakan hilang.

Banjir Tangse, Aceh (2011)

Banjir terbesar di Indonesia juga dialami oleh warga Aceh, tepatnya di Tangse, Pidie.

Banjir bandang ini terjadi pada 10 Maret 2011 akibat hujan deras selama empat hari berturut-turut.

Keadaan semakin parah dengan maraknya penebangan liar di kawasan hutan Tangse. Dengan dua kejadian tersebut, terjadilah banjir bandang yang tidak dapat dipadamkan dan mengakibatkan kerusakan pada beberapa rumah warga serta rusaknya jembatan antar desa.

Kerusakan infrastruktur di kawasan ini disebabkan oleh banjir yang menghanyutkan kayu-kayu besar.

Menurut keterangan dari badan penanggulangan bencana saat itu, kejadian ini menyebabkan 24 orang meninggal dunia dan 102 rumah warga hancur, dengan kerusakan berat dan ringan.